Tak ada yang menjadi pemandangan paling
aneh untuk seisi penghuni di sebuah hutan
selain tingkah seekor orang utan.

Kemana pun
ia pergi, dan kepada siapa pun ia berjumpa,
selalu saja di pundaknya terpikul sebuah
keranjang besar.
Di keranjang itulah, apa saja yang ia temui, dan
barang apa pun yang dibuang penghuni hutan
yang ia jumpai, selalu ia masukkan
kedalamnya.
Seekor rusa tampak terheran-heran ketika ia
mendapati sang orang utan mengambil tanduk
sang rusa yang patah.
”Untuk apa tanduk tak terpakai itu ?” tanya sang rusa ketika mendapati sang orang utan memasukkannya
kedalam keranjang khasnya.
”Tidak untuk apa-apa. Aku senang saja, ” ucap sang orang utan sambil berlalu
meninggalkan sang rusa yang keheranan.
Begitu pun ketika orang utan berkeranjang itu
mendapati seekor ular sanca yang usai
berganti kulit.
”Hei, untuk apa kau masukkan kulit yang tak terpakai itu kedalam
keranjangmu ?” tanya sang ular heran.
Lagi-lagi, sang orang utan santai saja
menjawab, ”Aku cuma senang saja. ”
Kian hari, isi keranjang sang orang utan mulai
tampak penuh. Hampir semua penghuni hutan
tampak kasihan dengan orang utan karena
beban yang ia pikul kemana pun sang orang
utan pergi. Dan, mereka tidak akan bertanya kenapa itu
dilakukan sang orang utan.
Karena,
jawabannya sudah bisa ditebak, ”Aku senang saja!” ** Tanpa disadari, kerap orang sering merasa
senang memikul beban jiwa yang semestinya
tidak perlu ia pikul.
Ketika orang membuang
marah, ia ambil. Ketika orang melepas benci,
ia simpan.
Ketika orang melempar iri, ia pun
mengambilnya untuk disimpan.
Padahal, tanpa mengumpulkan beban-beban
yang merupakan sampah jiwa itu pun, ia sudah
punya beban tersendiri. Kenapa begitu sulit
melepas gundukan beban kotor dan busuk itu
dalam diri, untuk kemudian menunaikan
amanah hidup yang sudah berat ini.
Atau barangkali, jangan-jangan jiwa ini sudah
seperti orang utan yang selalu punya jawaban
sederhana, ”Ah, aku cuma senang aja !”
(muhammadnuh@eramuslim.com)


Comments
No comments yet. Why not make the first one!
New Comment